Hari sudah beranjak sore dan waktunya anak laki – laki beranjak bermain bola di sebuah
tanah lapang yang tidak seberapa lapang.
Lima anak laki – laki tampak mulai berjalan dengan membawa bola plastik
hasil dari mereka iuran. Canda gurau saat mereka berjalan terdengar asik dan
seakan tidak tersirat rona kesusahan diantara mereka.
Sampailah mereka pada tanah
lapang yang digunakan sebagai tempat bermain
bola. Di sisi pinggir lapangan itu ditanami berbagai macam tanaman seperti
kelapa, rambutan dan mangga. Berdiri tegak di pinggir lapangan agak menjorok ke
lapangan sebuah tiang bendera yang terbuat dari besi dan terlihat jelas Sang
Merah Putih melambai – lambai di angkasa. Memberi aura semangat pada anak – anak yang
bermain bola disitu setiap harinya.
Mulailah kelima anak itu bermain bola. Giring sana giring
sini tapi bukan giring Nidji lo hehehe, mereka sangat asik bermain bola. “ goll “ teriakan itu silih berganti
terdengar dan seakan menjadi tujuan mereka dalam bermain bola. Keringat membasai
tubuh tidak mereka rasakan malah menjadikan bumbu permainan dalam
keasikan di sore itu. Terkadang terlihat mereka berguling atau terjatuh ditanah
saat memperebutkan bola. Ya itulah permainan sepak bola yang menurut para pakar
merupakan permainan pemersatu.
Haus mulai menerpa, merekapun bergegas meminta minum di
salah satu rumah yang memang dekat dengan lapangan. Seakan sudah hafal sang
pemilik rumahpun selalu menaruh wadah berisi air matang di luar rumah agar para
anak – anak yang haus saat bermain bola mudah untuk mengambil air minum. Hauspun
telah terobati dan kembalilah mereka ke lapangan untuk bermain bola. Tinggal empat
yang bermain bola sedangkan satu anak yang bernama
Imam tidak lagi ikut dalam permainan tersebut. Imam memilih mencari
kesibukan sendiri. Dia berada di pinggir lapangan sambil memperhatikan satu
persatu pohon – pohon yang ada di pinggir lapangan. Sesekali Imam memburu
burung gereja yang sedang mencari makan di sela – sela rumput yang ada di
pinggir lapangan namun tidak ada satupun yang berhasil dia tangkap. Diapun terus
asik bermain sendiri sambil menyaksikan temannya bermain bola.
“ aduuuuuuh “
teriak Imam dari pinggir lapangan. Secara serempak keempat anak yang mendengar
itu bergegas mencari sumber suara dan di dapatinya si Imam lagi terkapar,
tersungkur, tergeletak dan ter lah pokoknya di pinggir lapangan. Dia memegangi
kepalanya yang tampak benjol. “ Kenapa
Kamu, mam ? “ tanya salah seorang kawannya. “ anu, anu tadi aku .... “ Imam masih sedikit pusing sehingga
belum bisa menjelaskan kejadian yang dia alami.
Diberilah minum si Imam agar lekas pulih dan kemudian dia
pun menjelaskan kronologi kejadiaannya “
Begini lo aku tadi kan bermain daun kelapa, terus daun kelapa itu saya buat
ayunan seperti film tarzan “. “ Lalu
kenapa tergeletak ? “ tanya temannya. Imam pun meneruskan ceritanya “ La ya itu ... daun kelapanya saya buat
ayunan ehh ternyata buah kelapa yang kering jatuh mengenai kepala saya “ . Ke empat temannya hanya bisa tertawa
terpingkal pingkal mendengar cerita dai Imam.
Karena kebersamaan Itu Lebih Mengasikkan
~ Che , Cerpen kebersamaan ~

Post a Comment