Cerita ini diambil dari kisah seorang sahabat :
Dia memiliki nama
samaran Bijah, seorang pemuda desa yang usianya masih remaja. Memiliki
perawakan sedikit atletis karena kerja dia berkaitan dengan penggunaan kerja
otot. Kulit agak sawo matang dan memiliki rambut keriting. Tidak suka banyak
bicara dan lebih memilih diam. Sering terkena masuk angin karena telat makan.
Bijah mencintai seorang perempuan cantik yang berada di
Kecamatan berbeda. Dia mengenalnya melalui
media sosial. Lama dia berkomunikasi melalui media sosial. Dari komunikasi
yang intens tersebut timbullah sebuah rasa di hati yang ingin mengunjungi
perempuan tersebut secara langsung.
Ditentukanlah waktu untuk mengunjungi perempuan itu dan telah
disepakati sebelumnya. Dengan motor bebek yang sedikit usang, Bijah pun
mempersiapkan diri untuk berkunjung. Pakai baju baru hasil pinjaman teman,
farpum aroma segar yang masih tersisa dan rambutnya pun tak lupa memakai
pomade.
Berangkatlah Bijah menuju rumah si perempuan tersebut di waktu pagi
hari.
Tanjakan, tikungan dan lubang jalan tidak dia hiraukan
karena dia telah memiliki niat yang kuat. Sampai pada akhirnya diapun tiba
dirumah perempuan itu. Rumahnya berada dipelosok desa yang berdekatan dengan
perbukitan dan berhawa sejuk.
Perempuan tersebut menyambutnya ditemani orang tuanya,
karena kebiasaan masyarakat desa akan selalu menyapa dengan ramah.
Dipersilahkan masuk rumah dan mulai saat itu terjadilah komunikasi secara
langsung. Nama perempuan tersebut adalah
Iva entah siapa nama lengkapnya aku tidak tahu. Setelah ngobrol lama dan
dari hasil bujuk rayu kemudian diajaklah si Iva ini untuk sekedar jalan-jalan.
Cieeee berduaan ya ?
Menujulah Bijah dan Iva ke arah kota. mereka menuju salah
satu tempat nongkrong yang lumayan terkenal di sudut kota. Sembari menikmati pemandangan dan semilir
angin, komunikasi diantara mereka makin hangat. Bijah menceritakan tentang
dirinya dan segala tetek bengek kehidupannya dan si Iva pun juga begitu. Ada rasa malu diantara mereka, itu hal biasa
karena belum lama kenal. Meski sedikit canggung namun setelah beberapa menit
ngobrol di tempat tongkrongan itu barulah keduanya sangat akrab.
Lama mereka berada disana dan haripun sudah sore,
beranjaklah mereka pulang dengan motor Bijah yang lumayan usang. Lapar pun mulai menyerang perut si Bijah
dan juga si Iva. Namanya juga perempuan, selapar apapun pasti dia akan malu mengutarakan sebab belum lama
kenal. Bertahanlah mereka dari rasa lapar yang menyerang sebab mereka harus melewati
jalanan yang jauh dari warung.
Hingga terlihatlah
satu Banner bertuliskan “ Bakso Mantap “ . Menujulah keduanya ke warung
bakso tersebut. “ masih baksonya bu ? “
Bijah pun tak segan bertanya. “ waduh mas
tinggal tersisa 3 buah bakso doang “ jawab ibu pemilik warung. Bijah pun
memberitahukan kepada si Iva dan si Iva pun mau makan di warung tersebut meski
hanya dengan 3 buah bakso, entah kerena takut, karena cinta atau karena lapar
akupun juga tidak tahu hehehe. Sang pemilik warung pun bingung dan bertanya “ mas, ini gimana membaginya ? “. Si
Bijah pun memberi solusi yang tepat , akurat dan hebat.
Dibagilah 3 buah bakso
tersebut menjadi 2 porsi. Satu porsi berisi penuh kuah dengan 1 buah bakso dan
porsi lannya juga penuh kuah dengan 2 buah bakso. Porsi yang berisi
satu buah bakso diambil oleh Bijah sebagai bentuk jiwa lelakinya. Merekapun
makan dengan segala bentuk rekayasa perutnya agar terlihat kenyang dan begitulah karena
cinta harus diperjuangkan. Bagiku sendiri aku tak habis pikir dengan si Bijah
ini. Padahal Indonesia itu luas, kok tega-teganya mampir warung yang hanya
tersisa 3 buah bakso ? ah entahnya mungkin Bijah punya pemikiran lain.
Karena hidup perlu rekayasa agar selalu terlihat bahagia
~ Che, Cerita perjalanan cinta ~

Post a Comment