Ini kisah nyata waktu SMA
Waktu itu ketika ada
turnamen bola voly tingkat SMA dan sederajat, kami berempat akan mendukung tim SMA kebanggaan kami yang sedang berlaga. Tempat pelaksanaan
turnamen tersebut adalah di lapangan bola voly yang berada
di alun – alun kota. Kami berangkat bersama banyak teman tetapi kami
memilih berangkat paling akhir. Mengendarai dua motor dan berboncengan kami pun
menuju alun – alun.
Namanya juga masa SMA
urakan dijalan seakan menjadi bumbu penyedap dalam setiap kenakalan anak – anak
SMA. Celometan di jalan dan juga terkadang tingkah usil pun kami lakukan. Hingga
pada akhirnya kami hampir sampai di dekat alun – alun.
“ gubraaaak “
terdengar suara di belakang motor yang aku kendarai. Akupun menoleh dan ternyata oh ternyata , temanku kecelakaan menabrak anak STM yang juga mau mendukung tim kebanggaannya. Kami
pun berhenti dan menuju lokasi kejadian. Tidak terjadi luka yang serius antara
temanku dan anak SMA itu. Mereka saling menyalahkan dan mencari pembenaran. Terjadilah
percecokan dan aku bersama teman – teman yang berangkat paling akhir tadi ikut
dalam drama percekcokan tadi.
Terjadilah kesepakatan diantara kami dan kamipun akan
menyelesaikannya di dalam arena alun – alun. Mulanya kesepakatan berjalan
lancar tetapi karena di dalam alun – alun banyak anak STM yang melihat dan
mendengar cerita kecelakaan tadi maka muncul lah provokator dari salah
satu anak STM.
“ alah, kita tawur
saja “ terdengar samar – samar provokasi dilakukan. “
lariiiiiii ‘‘ teriakan temanku memekakkan telingaku. Aku sempat menoleh dan
kulihat anak STM telah bersama sama menuju arah kami berempat. Tanpa memikirkan apa – apa lagi kami pun lari secepatnya. Kami
hanya sempat memberikan kode kepada teman – teman kami tentang tempat untuk
bersembunyi. Kami saling berpencar ke berbagai arah menyelamatkan diri. Anak –
anak STM terlihat terus mencari kami ke berbagai sudut di sekitar alun – alun.
Satu persatu dari kami telah berada di tempat persembunyian
yang telah kami sepakati lewat kode tadi. Tinggal
satu teman kami yang belum datang dan kami pun lama menunggu. Dalam hati
kami pun was – was jangan – jangan temanku tadi tertangkap dan dupukuli anak
STM tadi. Beberapa saat kemudian temanku ini datang ke tempat persembunyian , namanya Ali. Dia datang dengan diantar becak.
“ bangsat lo semua,
kalian biarkan aku hampir tertangkap“ terlontar amarah dari mulut temanku. “ La kita kan sama – sama menyelamatkan diri
“ akupun melakukan pembelaan diri dan mencoba menenangkan situasi. Setelah situasi
tenang dan sudah tidak terlihat anak – anak STM kami pun kemudian bercerita “ jadi, bagaimana
ceritanya kamu kok bisa naik becak ?“ tanya salah satu temanku kepada Ali
yang tadi naik becak. “ hehehe begini, kan
aku tadi dikejar dan aku bersembunyi diantara becak lalu naik salah satu becak “
Ali terlihat bersemangat. “ kok gak
ketahuan ? “ tanyaku pada Ali. “ aku pinjam kaos si tukang becak dan
kupakai lalu kaosku ku sembunyikan, terus mukaku ku buat jelek mulutku kupaksa
atur sedemikian rupa dan gigiku ku buat agar terlihat tongos, jadi mereka tidak
hafal kepadaku “ jawab si Ali. Mendengar cerita Ali tadi kami
hanya bisa tertawa terpingkal – pingkal “
cerdas juga kau Al “ celetehku menutup cerita itu.
Karena kecedasan terkadang muncul tak terduga
~che, Masa SMA ~

Post a Comment