Segerombolan anak muda lagi asik nongkrong di sebuah warung
kopi kaki lima. Aku belum tahu kenapa disebut kaki lima padahal penjualnya
berkaki dua hehehe. Jika dihitung semuanya ada tujuh orang, dengan tampang dan
perawakan yang berbeda-beda. Mereka asik ngobrol dan sering pula terdengar
ejekan diantara obrolan mereka. Ya begitulah asiknya nongkrong di warung kopi. Dari
warung kopi yang harga segelasnya hanya dua ribu rupiah saja maka akan tercipta
keakraban. Interaksi sosial di warung kopi sangat berbeda dengan di warung –
warung yang telah modern. Alasannya adalah jika kita minum di warung modern
katakanlah kafe atau restoran maka kita akan sedikit canggung untuk bersuara
keras. Jika kita bersuara keras dan ngobrol rame – rame sampai tertawa terbahak
– bahak maka kita dianggap orang yang tidak tahu diri. Makanya kalau aku
sendiri sih mending pilih di warung kopi pinggir jalan , lebih asik dan lebih
banyak inspirasi.
Keceriaan ke tujuh anak muda tersebut terus berlanjut. Terlihat
empat anak diantara mereka sedang asik main kartu remi. Jika ada yang kalah tak
segan wajah temannya yang kalah tersebut dicoret pakai ampas kopi, hehehe lucu
dan mengasikkan. Sepiring gorengan tersaji di hadapan mereka. Satu buahnya
seharga lima ratus rupiah. Harga yang pas bagi orang – orang berpenghasilan
kecil seperti kami ini.
Kehebohan mereka
bersenda gurau seakan mengalahkan hebohnya berita saat ini tentang Pilkada. Yaaah itu
lagi dan itu lagi kayak tidak ada berita lain. Males ahh mending menikmati
secangkir kopi panas.
Semakin malam warung kopi kaki lima ini semakin ramai. Anak –
anak muda yang sering keluar malam untuk menikmati angin malam terus
berdatangan.
Jika yang satu pulang maka akan datang penikmat kopi yang lain. Warung
kopi ini memang menjadi idaman bagi anak – anak muda. Letaknya tidak jauh dari
perempatan lampu merah dan sering memutarkan musik – musik country.
Pada malam itu akupun bergabung dengan mereka di warung kopi
tersebut. Perutku sedikit mulas karena tadi makan sayur agak pedas yang
merupakan pantangan bagi suasana perutku. Perutku mulai bergejolak laksana air
laut yang sedang pasang. Terasa akan buang angin manun aku diam dan menahannya.
Beberapa saat kemudian. ....................................( suaranya tidak
terdengar, hanya beraroma khas hehehe )
“ sapa yang kentut “
“ iya sapa yang kentut “
“ pasti antok yang kentut “
“ kurang ajar baunya tidak enak “
“ sapa yang kentut “
Beberapa teman yang ngopi disitu saling mencari pelaku,
seakan kentut menjadi masalah yang harus dicari pelakunya untuk di hukum.
Aku pun kemudian berkata “ sudahlah kawan, itu kan Cuma kentut,
tak perlulah jadi rebutan “
Keramian mencari pelaku tadi pelan – pelan terhenti dan
salah satu anak berceloteh “ kita jadi goblok, kentut saja direbutin “
Dan aku Cuma ketawa hahahahahaha
Terkadang Kita Tidak Selalu berfikir Realistis
~ Che, Cerpen warung kopi ~

Apik2, kreatif pak Che
ReplyDeleteheuheuheu #tuhanmahaasik
Deletematur nuwun