Banyak kejadian terjadi ketika Agresi Militer Belanda II saat
itu. Orang-orang pada umumnya hanya tahu bahwa tentara gugur dalam perang itu
karena terkena peluru ataupun granat. Kejadian yang tidak lazim kiranya sengaja
tidak dipublikasikan ke media bahkan sengaja dihilangkan untuk menjaga wibawa
tentara saat itu. Semakin sangar ceritanya maka akan semakin bertambah pula
wibawa sebagai tentara. Itulah mengapa kita tahunya tentara gugur itu ya
tertembak. Coba simaklah kejadian ini sampai tuntas, pasti kita akan tahu
betapa perang itu sebenarnya juga ada kejadian yang tak pernah kita sadari.
Kejadian ini bermula disatu kampung yaitu kampung merah. Selama kurang lebih satu
minggu dikampung ini terjadi peperangan antara
tentara Belanda dengan tentara Indonesia. Hampir disetiap sudut kampung
berceceran darah hingga menyebabkan jalan-jalan menjadi merah, inilah mengapa
kampung ini disebut kampung merah. Peperangan kedua kubu tentara tersebut
memang sengaja terpusat disini karena kampung ini tergolong vital untuk
dikuasai.
Di suatu siang kedua kubu tentara telah bersiap-siap perang.
Segala keperluan perang mereka persiapkan mulai dari senjata, peluru, bahan
makanan serta keperluan lain yang wajib dibawa mereka persiapkan. Di kubu
Belanda dipimpin oleh Mayor Dekock
dan di kubu Indonesia dipimpin oleh Mayor
Tutukno. Semua persiapan telah rampung dan kedua kubu tersebut bergegas ke
medan perang. “ wahai para tentara, hari ini kita akan ke medan laga untuk
mempertahankan tanah air yang kita cintai ini “ Mayor Tutukno memberikan
semangat kepada anak buahnya. “ Siaaaap “ sahut tentara.
Kubu Belanda tersisa 30 tentara, sedangkan kubu Indonesia
tersisa 10 tentara saja. Terlihat tidak seimbang, namun demi mempetahankan
setiap jengkal tanah air tidak ada alasan bagi tentara untuk takut perang
apalagi takut mati. Jiwa dan semangat patriotik telah tertanam dalam diri
setiap tentara. Kedua kubu itu pun menuju medan perang dan pastinya perangpun
terjadi.
Suara tembakan mulai terdengar, dar, der, dor, deng. Loh kok
deng ? iya sebab mengenai atap rumah warga yang terbuat dari seng sehingga
menimbulkan suara deng. Peluru-peluru yang lewat seperti kilat dan saking
banyaknya seakan seperti hujan meteor. Granat tangan juga terlontar hingga
menyebabkan suasana menjadi seram bahkan lebih seram dari malam jum’at kliwon.
Berjam-jam perang dari kedua kubu itu terjadi hingga amunisi yang meraka bawa
menipis seperti tipisnya dompetku saat ini. K orban berjatuhan dikedua kubu,
jeritan dari tentara yang terkena peluru serta menahan sakit yang luar biasa
membuat siapa saja miris dan ingin menangis. Banyak yang gugur dari kedua kubu.
Tergeletak ditanah dengan bersimbah darah, namun perang belum usai.
Hingga hari semakin petang masih terjadi baku tembak meski
terdengar semakin jarang. “ Mundur, kita mundur hari sudah gelap “ teriakan
Mayor Tutukno terdengar keras. Seluruh tentara di kubu Indonesia menuju camp
persembunyian. Kemudian Mayor Tutukno menginformasikan kepada tim medis untuk
bergegas menuju medan perang tadi dan menolong yang terluka serta membawa yang
telah gugur. Dengan obat seadanya akhirnya yang luka diobati. Untuk mereka yang
telah gugur dilakukanlah otopsi kecil guna mengetahui penyebab kematiannya.
Betapa kagetnya tim medis mengetahui bahwa salah satu
tentara gugur bukan karena peluru. Tidak didapatinya peluru yang bersarang
ditubuh tentara itu dan hanya ada lubang dikepala tentara itu yang ternyada ada
batu kecil didalamnya. Ketua tim kemudian menyimpulkan bahwa tentara tersebut “
mati kerena batu “ ini didasari dari adanya batu dikepala tadi.
Kemudian Mayor Tutukno dan tim medis menyimpulkan lagi
kemungkinan-kemungkinan kenapa batu itu sampai dikepala. Hasil kesimpulannya
adalah : ketika terjadi baku tembak tadi, ada peluru nyasar kemudian peluru
tersebut mengenai batu dan batunya pecah menjadi pecahan kecil selanjutnya
pecahan batu itu terlontar mengenai kepala tentara tadi. Banyak tentara yang
tidak percaya bahkan aku sendiri juga tidak percaya, maka dari itu percaya saja
ya agar tidak terjadi debat. Untuk menjaga ini semua Mayor Tutukno memerintahkan
semua tentara untuk tidak bercerita tetapi mayor tentara lupa bahwa saya juga
mendengarnya dan saya ini suka bercerita. Maaf Mayor saya khilaf ya.
Itulah kisah yang mungkin tidak kita sadari dalam perang dan
jangan dikira tidak ada kelucuan dalam perang.
~ Che, Cerpen Perang ~

Post a Comment