Ku dorong motor tuaku karena ban belakangnya bocor. Maklum lah
saja motor tua, sudah sepuluh tahun kupakai tanpa henti, dialah sahabat
sejatiku mulai aku masih sekolah hingga kini sudah bisa kerja sendiri. Sejauh hampir
1 kilometer baru kudapati tempat tambal ban. Ku sapa sang pemilik tamban ban
lalu kujelaskan bahwa ban belakangku bocor. Aku dipersilakan duduk untuk
menunggu selesainya proses tamban ban. Hal yang paling kubenci adalah duduk
menunggu tanpa secangkir kopi. Bisa dikatakan aku ini kopi lover alias pecinta
kopi. Untung saja tidak jauh dari tempat tambal ban tersebut ada warung kopi
sederhana.
Kulangkahkan kakiku menuju warung kopi itu. Aku masuk dan
ternyata didalam sudah ada 2 orang bapak-bapak yang sedang menikmati kopi. Aku kemudian
memesan 1 cangkir kopi hitam, kopi favoritku. Sebentar saja aku duduk muncullah
keakraban dari 2 bapak-bapak yang lebih dulu menikmati kopi. Salah satunya
tanya padaku ‘ dari mana mas’ ? akupun menjawabnya tadi dari rumah mau kerumah
teman tetapi motorku bannya bocor pak. Bapak itu lalu manggut-manggut seakan
mengerti. Bapak-bapak tersebut kemudian terdengar asik mengobrol. Hal yang iya
obrolkan tentang adanya korupsi yang berjamaah.
“Korupsi kok jamaah’” ucap bapak yang memakai kaos hitam. Aku
pun berfikir bagaimana bisa sebegitu banyaknya orang memiliki pemikiran yang
sama untuk melakukan hal yang tidak baik. Apakah mereka satu sekolah atau
mereka satu angkatan ? padahal orang tuanya berbeda, tempat lahirnya berbeda,
kenapa memiliki pemikiran yang sama?. Aku tak bisa menerjemahkan pemikiranku
sendiri. Aku hanya berfikir, jika orang-orang terpilih dan tentunya cerdas saja
memiliki pemikiran yang sejalan untuk mendapatkan uang dengan cara tidak baik,
lalu bagaimana dengan orang-orang sepertiku yang kurang punya kecerdasan dan
juga kurang bekal agama. Bisa aku bayangkan sendiri jika suatu saat aku jadi
seorang yang memiliki jabatan dan kekuasaan betapa rakusnya diriku. Betapa sombongnya
aku dan betapa menipunya aku. Sungguh membuatku takut untuk menjadi seorang
yang mengabdi untuk rakyat di negeri ini. Padahal aturan hukum jelas, secara
agamapun jelas bahwa korupsi itu tidak diperbolehkan. Jika mereka orang-orang
yang mengerti hukum saja melanggar aturan bagaimana denganku ? sebenarnya
bagiku ini juga lucu. Lawong di KTP nya saja tertulis agamanya tetapi masih
saja korupsi.
Benar apa yang dikatakan bapak Menteri waktu itu. Agama di
KTP lebih baik dihapus saja. Untuk apa punya agama jika tidak percaya dengan
larangan dan perintah agama. Tidak percaya lagi adanya Tuhan Yang Maha Esa.
Bagi mereka agama di KTP hanyalah tulisan anak SD tanpa makna. Mereka lebih
memilih takut kepada manusia sehingga dengan berbagai upaya mereka
sembunyi-sembunyi untuk korupsi agar tidak diketahui manusaia lain, bukan takut
pada Tuhan. Ah sudahlah untuk apa aku memikirkannya mending kunikmati kopi
pesananku tadi.
Tak terasa 20 menit aku diwarung kopi. Sampai-sampai tukang
tambal ban tadi menemuiku dan mengatakan bahwa bannya telah selesai. Lalu bergegaslah
aku menuju motorku. Kukasihkan uang lima ribu sebagai bentuk pembayaran lalu ku
nyalakan motorku dan kulanjutkan perjalananku yang sempat terhenti karena ban
bocor.
~ Che, Cerpen ~

Post a Comment