Tragedi Konyol Pak Guru Rani
Pernah sekolah SD kan? Pasti pernah. Ketika kita sekolah SD
banyak kejadian lucu yang tidak bisa kita lupakan hingga kini dan bisa
dikatakan sangat konyol. Cobalah simak cerita ini.
Di era 90 an kita sering mengalami hukuman dari guru karena
kesalahan kita. Meski begitu murid-murid jaman dulu selalu menerima dengan
iklas dan jika ketahuan orang tuanya pasti dimarahi. Berbeda dengan sekarang,
jika gurunya menjewer saja pasti dilaporkan ke pihak yang berwajib. Sungguh
lebay untuk istilah anak gaul jaman sekarang. Era 90 an memang kebanyakan
gurunya cenderung memberikan hukuman akan tetapi ada salah satu guru yang bijak
dan sangat sabar di sekolah tempat cerita ini terjadi. Namanya Pak Surani atau biasa disapa Pak Rani.
Pak Rani ini selalu mengendarai motor tuanya yang oleh
murid-muridnya disebut motor kancil.
Ini disebabkan tangki motornya kecil seperti tubuh kancil. Beliau juga memiliki
warung makan dirumahnya, jadi selepas mengajar beliau pasti membantu menyiapkan
segala kebutuhan warungnya. Warung tersebut tergolong laris dan menyediakan
berbagai menu masakan. Pak Rani harus bekerja ekstra untuk mempersiapkan segala
kebutuhan. Mulai dari daging ayam, bumbu masakan dan peralatan lain terkadang
sampai larut malam. Tentunya menyebabkan badan cepek, linu-linu, meriang dan
juga insomia, itu lo penyakit sulit tidur. Ditambah lagi sebelum berangkat
sekolah beliau juga harus mempersiapkan warungnya mulai dari menata meja,
kursi, sendok, piring pokoknya banyak deh. Setelah itu barulah beliau
mempersiapkan kebutuhan untuk tugas utamanya sebagi guru.
Pagi itu beliau berangkat ke sekolah menggunakan motor
tuanya. Jarak yang harus ditempuh kurang lebih lima kilometer saja. Pelan
beliau mengendarai motornya hingga sampai di sekolah. Murid-muridnya telah
menunggu dan berjabat tangan sebelum masuk kelas. Iya mengajar di kelas lima,
kelas yang diisi murid-murid yang bandel. Jika tidak ada gurunya atau ditinggal
sebentar saja kelas ini pasti rame
seperti kandang bebek. Jumlah murid laki-laki lebih banyak dan inilah yang
menyebabkan kelas ini rame dan sulit dikendalikan. Tidak jarang guru memberikan
hukuman kepada seluruh murid laki-laki, hanya Pak Rani inilah yang sanggup
mengajar di kelas ini dengan sabar.
Karena kelelahan dalam mempersiapkan kebutuhan warungnya, Pak
Rani biasanya sering tertidur didalam kelas. Ini dimanfaatkan oleh murid-muridnya
untuk bermain. Terkadang Pak Rani juga menahan kantuknya menyebabkan iya seakan
mengangguk-angguk lalu memejamkan mata dan kemudian bangun lagi. murid-muridnya
tertawa saat melihat kejadian seperti itu.
Ketika itu masih Jam
09.00 Pak Rani seakan tidak kuat
lagi menahan kantuknya. Iya mengangguk-angguk dan benar-benar mendapat serangan kantuk yang luar
biasa. Terbesitlah ide dari salah satu murid
yang paling bandel julukannya Bagong. Entah kenapa dijuluki Bagong aku
sendiri kurang tahu. Ide itu kemudian iya bisikan ke salah satu temannya dan
aku sendiri tidak tahu rencana apa yang akan iya lakukan.
Bagong pun berdiri lali berucap “ pak Rani pulang ?” serta merta pak Rani mengangguk, sebenarnya
sih bukan mengangguk mengiakan untuk pulang tapi karena beliau mengantuk. Murid
kelas lima secara perlahan-lahan pulang agar tidak di dengar oleh pak Rani.
Selang beberapa menit sekitar 3 menitan, pak rani terbangun dan didapatinya
kelasnya kosong kemudian beliau bergegas keluar kelas untuk mencari muridnya.
Didapatinya murid kelas lima tadi telah membawa tasnya dan telah berjalan untuk
pulang. “ kembali-kembali, ini masih jam
09.00 belum waktunya pulang, kenapa kok pulang ?” teriakan pak Rani di
dengar beberapa muridnya. Hanya tersisa tiga murid saja yang kembali ke kelas
lalu mereka ditanya kenapa kok pulang dan salah satu murid menjelaskan
kronologi kejadiannya. Pak Rani pun akhirnya mengetahui bahwa anggukannya dikira memperbolehkan untuk pulang, padahal menahan kantuk.
Oalah Pak Rani apes bener anggukanmu hehehe.
Sekian kisah masa sekolah, dan tentunya banyak kejadian lucu
yang layak kita abadikan.
Hargailah gurumu karena mereka pahlawan tanpa tanda jasa.
~ Che, Cerpen masa sekolah ~

Post a Comment