Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya bahagia, hidup
sukses dan mapan. Orang tua tidak pernah meminta apapun dari anaknya, namun
kadang kala anaknya lupa diri ketika sudah menjadi sukses dan membiarkan orang
tuanya yang sudah renta hidup tanpa kasih sayang anak-anaknya. Kisah yang aku
tulis ini semoga memberi pelajaran pada diri kita khususnya kepada diriku
secara pribadi. Bacalah sampai tuntas jangan ada yang tertinggal.
Orang tua mana yang tidak bahagia melihat anak-anak nya
begitu sukses. Seperti yang dialami bapak
Sabar ini. Ke empat anaknya telah memiliki kesuksesan di berbagi bidang,
ada yang jadi pengusaha, dosen, dokter
dan juga polisi. Bisa dikatakan semuanya tidak kekurangan ekonomi bahkan
bisa dibilang cukup mapan untuk ukuran orang desa. Anak-anaknya tersebut
tinggal di berbagai daerah yang sedikit jauh dari rumah orang tuanya. Sesekali
mereka datang untuk menjenguk orang tuanya serta membawakan makanan dan
barang-barang lain untuk orang tuanya.
Waktu terus berjalan, seperti siput yang sedang berjalan
meski pelan namun hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Usia orang tuanya
yang tinggal ayahnya saja karena ibu mereka telah lebih dulu meninggal pun
bertambah. Kini ayah mereka telah mencapai usia tujuh puluh lima tahun, bisa
jadi lebih sebab aku juga tidak melihat akte kelahirannya. Ayahnya tinggal
sendiri dan berdekatan dengan rumah keponakannya yang biasa menengok serta
menjaganya setiap hari. Dengan usia yang sudah tua menyakibatkan ayahnya
sedikit lupa ingatan kita sering menyebutnya “ Pikun”
Karena faktor pikun
tadi dan kurangnya pengawasan membuat si ayah ini jadi tidak terkontrol. Iya
selalu saja keluar rumah bahkan pada suatu hari iya jauh meningalkan rumah dan
dicari oleh keponakannya tadi. Untungnya hidup di desa karena orang desa masih
memiliki tingkat kepedulian terhadap lingkungannya sehingga jika si bapak ini
keluar rumah selalu saja ditolong orang untuk kembali kerumahnya.
Anak-anaknya yang sudah sukses tadi sebenarnya oleh warga
telah dikasih tahu, namun karena alasan
faktor pekerjaan yang tidak bisa mereka tinggalkan menjadikannya tidak
sempat merawat orang tuanya. Maklum saja kini mereka telah menjadi orang hebat
sehebat super hero di film-film bioskop. Hanya keponakannya tadi yang sangat
perhatian terhadap si bapak ini. Semoga kebaikannya nanti dibalas surga.
Suatu ketika si bapak ini kembali keluar rumah dan karena
faktor pikun tadi si bapak ini berbuat sesuka hati. Si bapak ini melempari
pengendara motor yang lewat serta terkadang iya juga mengganggu para pengendara
motor. Banyak anak-anak yang mengetahui tentang si bapak ini, namanya juga
anak-anak seperti aku dulu, bukannya menolong malah mengejek si orang tua ini.
Anak-anak ini mengejeknya dengan perkataan “
orang gila “. Kalimat itu terus anak-anak ucapkan mana kala bertemu dengan
bapak ini. Terlihat di pinggir jalan seorang ibu penjual gorengan menangis dan
aku mendekati ibu tersebut lalu aku tanya “ kenapa kau menangis bu?” lantas ibu
itupun menjawab “ bagaimana aku nanti
ketika anak-anak ku sukses lalu melupakanku ? “. Mendengar jawaban ibu itu,
hatiku merasa sedih dan berfikir sama seperti ibu tadi dan tak terasa air
mataku terasa menetes dipipi.
Lama waktu berjalan dan kejadian itu terus berulang. Sampai
pada akhirnya si bapak ini mengalami
sakit. Anak-anaknya yang sukses dikabari jika orang tuanya sakit. Merekapun
pulang dan memberikan pengobatan kepada orang tuanya. Terjadi perselisihan dan
saling menyalahkan antara anak yang satu dengan anak yang lainnya terkait
kenapa sampai si bapak ini sakit.
Kemudian terdengarlah kabar bahwa si bapak ini meninggal dunia. Anak-anaknya pun berkumpul di rumah duka dan
menangis sejadi-jadinya. “ bapak, kenapa
engkau meninggalkan kami “ terdengar kalimat terucap di sela-sela tangis
dari salah satu anaknya. Anak-anaknya bergantian memeluk tubuh ayahnya yang
telah terbungkus kain kafan. Tangis terus terjadi hingga membuat suasana pilu. Sampai
dimakamkanpun tangis anak-anaknya masih terus terdengar.
Pada akhirnya sampai di hari ketujuh kematiannya. Seperti
adat desa khususnya didaerah jawa jika telah sampai tujuh hari maka selalu
dikirimi do’a. Ratusan undangan tersebar untuk ikut memberikan do’a. Berbagai olahan makanan disajikan untuk
menjamu undangan seakan anak-anaknya berlomba menunjukkan kemapuannya.
Sebenarnya semua itu telah terlambat. Kenapa semasa hidupnya
tidak dipedulikan ? apakah ini arti membalas orang tua ? Semoga saja aku bisa
menghargai orang tuaku meski aku tidak sesukses mereka. Semoga aku jadi manusia
yang masih manusiawi.
Karena kesuksesan bukanlah ukuran untuk menjadi hebat lalu
lupa diri.
~Che, Cerpen Hidup ~

Post a Comment